Translate

Senin, 28 Desember 2015

TERJAGA





Puisi Amrhy_02
TERJAGA

Yang tak perih
Aku
Yang tak mengimbangi
Aku
Karena aku bukan jerat
Bagi kau para ikhwan
Hilang batas zaman
Tanpa masuk terlalu dalam
Mengasingkan diri demi penjagaan
Ilat pada perpaduan
Bagiku kau sisiku
Jika diikat dengan keabsahan yang sempurna
Dan bagiku tiada rasa
Tanpa dibangun setelahnya
Hilangkan prasangka
Yang menyudutkanku, cela
Aku sama
Tapi juga aku berbeda
Kau beruntung
Jika kau tata hatimu
Untuk melihatku lebih
Jelas dan terang
Ikhwan


Bukittinggi, 28 Oktober 2015

NASIB JOMBLO





Puisi Amrhy_02
NASIB JOMBLO

Terkadang aku dihina mereka
Terkadang aku dicaci terlebih awal
Terkadang aku dicibir terlebih utama
Hanya karena aku seorang “jomblo”

Jomblo di mata mereka, mulia di mata Allah
Ngenes di mata mereka, syurga di mata Allah
Melarat di mata mereka, penantian indah di mata Allah
Itulah aku, si jomblo

Jangan kau kira jomblo itu sengsara
Jangan kau kira jomblo itu hina
Jangan kau kira jomblo itu duka
Justru jomblo itulah orang-orang pilihan surga

Menjaga diri dan kehormatan
Menjaga hati dan raga dari azab api neraka
Justru si jomblolah yang paling bahagia
Berduaan hanya membuat Allah murka

Bahagia berdua hanya sementara
Kau mesra sebelum ikatan halal tiba
Yang jomblo jangan berhati iba
Karena itulah membuat Allah bahagia

Jika kau dikatai jomblo
Berdiri dan katakan dengan tegas
“No, I’m not single!”
“I’am in a long distance relationship”
“Because… my soulmate lives in future”


Bukittinggi, 16 Oktober 2015


Biodata:

AMRI RAZAK. Lahir di Malalak, Kab. Agam. Pernah mengikuti latihan kepenulisan bersama FAM Indonesia. Sekarang aktif di bimbingan kepenulisan Tubuh Jendela di Bukittinggi. 37.VITJ.2015

Jumat, 18 Desember 2015

JANGAN CARI





Puisi Amrhy_02
JANGAN CARI

Jangan kau cari yang hanya tampan wajahnya
Jangan kau cari yang hanya banyak hartanya
Jangan juga cari yang diperebutkan wanita lain
Carilah yang tampan akhlaknya

Tetap mencari yang halus tutur katanya
Yang mulia budi pekerti dan bahasanya
Bisa memuliakan kau kaum wanita
Dia yang siap menjadi pemimpinmu dan menafkahimu

Carilah pembimbingmu untuk semakin dekat pada-Nya
Dia yang menuntunmu ke jalan ridha-Nya
Dia yang mengingatkanmu ketika kau lalai
Lalai akan tugas dan kewajibanmu pada-Nya

Terus mencari yang bisa sadarkan kau jika khilaf
Dia yang meluruskan kesalahanmu dengan kelembutan
Dia yang bisa memaafkanmu dengan penuh keikhlasan
Jika kau berbuat salah yang sengaja ataupun tidak

Ketika kau salah bukannya marah
Ketika kau khilaf bukannya menghakimimu
Ketika kau kufur bukannya meninggalkanmu
Dia yang pantang menyerah tentangmu
Membimbing, menuntun serta mengajakmu kepada jalan lurus-Nya


Belakang Balok, 30 Oktober 2015

Kamis, 17 Desember 2015

TENTANG KAMAR




Puisi Amrhy_02
TENTANG KAMAR

Mataku masih sulit dibuka
Namun hati keras untuk tetap bangkit bangun
Lantunan suara dari menara masjid bergema
Panggilan tunaikan kewajiban

Aku mulai renungkan semuanya
Berkaca menelaah diri
Merenungkan tentang impianku
Merenungkan kunci sukses hidup ini

Jendela kamarku berbisik
Lihatlah dunia luar yang terbentang luas!
Langit-langit kamar berpesan
Bercita-citalah kau setinggi mungkin!

Jam dinding berdetak pun berkata
Setiap detik itu amat berharga!
Cermin mengatakan pesannya
Berkacalah kau sebelum bertindak!

Kelender meja berbisik pula
Jangan kau menunda hingga besok!
Pintu kamarku berteriak keras
Dorong yang keras dan pergilah!

Satu lagi yang tertinggal
Pesan sang karpet pelapis lantai kamar
Lantang dia serukan
Berlutut, sujud dan berdoalah kau!


Belakang Balok, 16 Oktober 2015

Rabu, 16 Desember 2015

SALAH DUGA


Puisi Amrhy_02
SALAH DUGA

Rintik-rintik air mulai berjatuhan
Langkah kaki berjalan kian cepat
Sampai di titik itu pun kakiku terhenti
Tepat di depan istana impian

Tak dipinta pun kaki ini mulai melangkah masuk
Menginjak bentangan permadani merah
Terhenti di depan dua ksatria gagah bersenjatakan tombak
Memandangnya menyapaikan asaku

Suara lantangnya mengusik heningnya pagi
Tegas, keras, namun berwibawa
Jiwa yang patut di posisinya
Semua dikabulkan sesuai pintaku

Semakin dekat dengan tujuanku
Di sanalah sosok itu mulai nampak
Sosok sang bidadari pujaanku
Pelipur lara hati nan sunyiku

Dia duduk bertopang dagu
Dengan gaun putih bak sorang ratu
Kerudungnya menjuntai menambah anggun pesonanya
Sempurna di pandangan mataku

Aku terkesima memandanginya
Apakah dia akan jadi jodohku?
Harapku memang demikian
Dirinyalah bidadari surgaku

Namun cemas tiba-tiba menghampiriku
Seorang pria berjubah putih mulai menghampirinya
Berdiri tepat di hadapannya
Menyampaikan kata-kata yang tak bisa kudengar

Hilanglah semua keceriaan saat itu juga
Kalut bercampur bingun menyerangku
Hantu perasaan mamasuki hatiku
Berkecamuk jadi satu

Aku kini bak gelas di atas ujung pedang
Sedikit guncangan lagi habis semua harapku
Untung saja pria itu hanyalah penjaga setianya
Sang bidadari tetaplah bidadari surgaku


Belakang Balok, 14 Oktober 2015