Translate

Selasa, 23 Februari 2016

MERTUA! KAKEK! AYAH-MU! AYAH?




MERTUA! KAKEK! AYAH-MU! AYAH?

 “Tingtong… Tingtong… Assalamu’alaikum.” Bunyi bel disertai ucapan salam memecah kesunyian kediamanku.

 “Ya, sebentar” sahut—istriku—Najwa. “Ayah! Ayo masuk.” Dapat kudengar seruan istriku. Mertuaku—ayah Najwa—akan datang hari ini. 

Dia bukan hanya berkunjung tapi, akan menetap di sini entah untuk berapa lama, mungkin selamanya. Jujur saja ini menggangguku.  Padahal ia masih memiliki anak yang lain entah mengapa dia ingin tinggal di sini. Tentunya karena permintaan istriku, aku bilang ya saja dari pada runyam nantinya.

Sejak kedatangan ayah Najwa aku merasa risih dan terbebani. Karena aku menganggap ia hanya menambah beban dan pengeluaranku saja. Oleh karena itu, aku sangat jarang berkomunikasi dengannya. Sesekali kami berbincang yang hanya sekedar sapaan dan basa- basi saja antara seorang menantu dan mertuanya. Penyebabnya juga karena aku menganggapnya kampungan. Pastinya pembicaraan kami tidak akan menarik. Bisa dikatakan sekarang anakku menempel dengan mertuaku.

 “Kakek… Kakek lihat ini.” Jelasku dengar suara cempreng anakku memanggilnya. “Biar saja dia mengasuh daripada tak ada kerjaan” pikirku. 

Malam harinya di kamar. “Ayahmu itu tak ada kegiatan lain selain membuat Yolla berisik.” Ucapku.
 “Itukan bagus Mas. Yolla jadi tak kesepian jika tak ada temannya. Lagi pula ayahku kan ayahmu juga, Mas.” jawab istriku. 

‘AYAHKU?’ batinku. Aku hanya tersenyum simpul pada istriku dan beranjak tidur. Najwa juga sepertinya tidak ingin memperpanjang obrolan ini. Saat itu, perkataannya tak terlalu menggangguku.

Esoknya saat aku pulang kerja rumah terasa begitu sepi. Tak aku dengar lagi suara anakku yang berisik bermain dengan kakeknya. Benar juga, aku belum melihatnya. Ke mana dia? Mengapa aku begini? Bukannya itu yang aku inginkan. Tapi tetap saja aku penasaran. Saat makan malam aku mengetahui bahwa mertuaku itu pulang kampung. Hanya sebatas itu perbincangan kami dan Yolla pun tak banyak bicara. Dia menghabiskan makanannya dengan cepat lalu beranjak ke kamarnya. “Rumah yang tenang seperti keinginanku. Sunyi. Ya, terasa mencekam. Mencekam? Apa itu? Aneh- aneh saja,” batinku.

Sudah semingu lebih mertuaku pulang kampung dan rumahku terasa semakin sunyi saja setiap harinya. Apa aku sudah terbiasa dengan kehadirannya, entahlah. Tidak, aku hanya kesal melihat kemurungan putriku. Lagi-lagi aku menyangkal pikiranku sendiri.

Hari ini pekerjaanku tak terlalu banyak di kantor. Sehingga aku bisa pulang cepat. Saat turun dari mobil kulihat Yolla dan istriku berdiri di teras. Jelas sekali Yolla tampak bersemangat dari sikapnya yang tak mau diam itu. Entah mengapa aku merasa menyambut kedatanganku. Itu menyenangkan. Sebuah senyum tergambar di wajahku. Apalagi saat kulihat Yolla berlari ke arahku dan spontan saja aku merentangkan tangan. Tapi... dia melewatiku begitu saja.

 “Kakek!” Teriak Yolla di belakangku. Mendengar itu aku berbalik, kulihat Yolla memeluk erat mertuaku dan dia langsung menggendong Yolla. Aku sunguh merasa antara ada dan tiada di sini. Tambah lagi istriku hanya tersenyum sepintas padaku kemudian, berlalu menghampiri ayahnya. Mertuaku.

Mertua!! Kakek!! Ayah Najwa!! Ayah? Tanya batinku berkecamuk. Semalaman aku merenungkan panggilan itu. Aku menyimpulkan bahwa aku selama ini berbohong pada diriku dengan menyangkal keberadaanya. Menganggapnya beban karena aku berpikir dia orang asing. Mertuaku, tidak dia ayahku juga. Itu yang seharusnya ada di pikiranku. Tak kusangka panggilan sunguh memengaruhi kedekatan dan keikhlasan kita. Setelah itu aku mengakrabkan diri dengannya serta putriku tentunya juga istriku sehingga rumah kami pun lebih bercahaya. Tawa Yolla dan riang candanya bersama ayah mertuaku membuat seisi rumah menjadi gaduh. Tak ada lagi kesunyian, yang ada keceriaan, kegaduhan dan canda tawa. Kini aku menyadarinya bahwa aku selama ini kurang peduli dengan ayah metuaku.

“Papa nampak senang dan bahagia sekali,” bisik istriku. Saat itu kami sedang kumpul di ruang keluarga kecil kami dan aku hanya tersenyum kecil mendengar celetukan istriku itu. Malam itu kami habiskan dengan penuh kebersamaan. Malam itu waktu terasa begitu cepat berlalu. “Aku bersyukur dengan adanya mertuaku di sini,” teriak batinku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar